Minamoto no Tametomo, Samurai Pemanah Legendaris Paling Hebat di Jepang

Minamoto no Tametomo, Samurai Pemanah Legendaris Paling Hebat di Jepang

Minamoto no Tametomo, Samurai Pemanah Legendaris Paling Hebat di Jepang – Minamoto No Tametomo merupakan seorang legendaris samurai pemanah yang lahir di abad ke-12. Mendukung mantan Kaisar Sutoku yang tengah melawan Taira no Kiyomori dan sepupunya Minamoto no Yoshitomo bersama dengan ayahnya sang samurai legendaris juga Minamoto no Tameyoshi. Dalam pemberontakan Hogen yang terjadi di tahun 1156, sang sepupu Yoshitomo mendukung kaisar Go-Shirakawa.

Minamoto no Tametomo, Samurai Pemanah Legendaris Paling Hebat di Jepang

Memiliki nama panggilan Tametomo dari Chinzei Hachiro Tametomo, samurai legendaris ini hidup di akhir periode Heian. Ia terkenal seperti Slot Online Terbaik Dan Terpercaya No 1 di Indonesia karena memiliki keahlian dalam memanah, bahkan legenda mengatakan bahwa lengan kiri Tametomo lebih panjang 5-10inci sehingga keahlian memanahnya tidak terkalahkan. Kastil milik Tametomo terletak di dekat gunung Chinze.

Tametomo juga berperang dalam Hougen Rebellion pada tahun 1156. Tak cuma itu, konon Tametomo juga pernah menenggelamkan kapal orang-orang Taira cuma dengan satu buah hati panah saja! Hal ini dikarenakan berdasarkan legenda, tangan kiri Tametomo lebih panjang 4 inchi dibanding tangan kanannya. Membikin kecakapan memanahnya menjadi tidak terhentikan.

Sedangkan sesudah itu, orang-orang Taira memotong lengan kiri Tametomo dan membuatnya terhambat dalam memanah. Sayang sekali, ya? Mungkin sebab info panjang lengannya yang legendaris itu, orang-orang Taira mengincar lengan kiri Tametomo.

Dan sesudah itu barulah, Tametomo diasingkan ke pulau Oushima di kawasan Izu. Pada hasilnya, dalam masa pengasingannya, Tametomo melaksanakan seppuku atau bunuh diri demi harga dirinya. Melainkan kecuali info-info di atas, malahan infonya, legenda samurai keren ini pernah menumbangkan 50.000 musuh!

Meninggal Dengan Cara Seppuku

Tugas samurai adalah bertempur di medan perang dan diharuskan untuk menaklukan musuh. Jika menang dalam pertempuran maka samurai telah berhasil mengalahkan musuh, namun jika kalah maka mereka akan merasa malu dan tidak dihargai. Hal ini lah yang melatarbelakangi adalanya seppuku atau yang kini dikenal dengan harakiri. Dimana sebagai seorang samurai, merasa lebih baik jika ia mati di tangan sendiri akan lebih baik jika dibandingkan menanggung malu seumur hidup.

Minamoto No Tametomo setelah menuntaskan pemberontakan Hogen, mendapati istananya terbakar oleh Taira no Kiyomori yang juga di saat itu berhasil menangkap Minamoto dan memotong lengan kiri serta membuang ia ke salah satu pulau.

Minamoto no Tametomo pun melakukan Seppuku karena dirasa ia sudah tidak lagi berguna setelah lengan kirinya dipotong dan juga merasa bahwa kekalahan sudah terasa sangat dekat. Tametomo kemudian merobek perutnya, namun karena tak juga ia menemui ajal maka Tametomo pun langsung memotong saraf pusat yang terletak di bagian atas pungung dan kemudian ajal pun menjemputnya.

Tomoe Gozen, Samurai Legendaris Wanita Yang Cantik Namun Menakutkan

Tomoe Gozen, Samurai Legendaris Wanita Yang Cantik Namun Menakutkan

Tomoe Gozen, Samurai Legendaris Wanita Yang Cantik Namun Menakutkan – Tomoe Gozen merupakan salah satu samurai legendaris wanita yang dianggap sebagai samurai yang sangat cantik. Tak hanya terkenal dengan paras yang cantik, Tomoe juga dikenal karena memiliki keahlian yang mumpuni saat menggunakan senjata juga menunggang kuda.

Tomoe Gozen, Samurai Legendaris Wanita Yang Cantik Namun Menakutkan

Kisah milik Tomoe Gozen ini sendiri seakan diselimuti oleh misteri, namun samurai cantik di abad ke-12 ini disebut-sebut memiliki kekuatan yang setara dengan kekuatan 1.000 tentara. Begitu mengerikan meskipun memiliki paras yang sangat cantik.

Gozen ialah putri Nakahara Kanet, seorang simpatisan Minamoto no Yoshinaka, dan ia mewariskan kesetiaan keluarganya. Ia melayaninya di Perang Genpai, pimpin 300 samurai menantang 2.000 prajurit klan Taira dan menang. Menurut Heike monogatari, Tomoe mempunyai rambut hitam panjang dan kulit yang ceria, dan mukanya benar-benar elok.

Ditambah lagi ia ialah seorang penunggang kuda yang tidak mengenal takut yang tidak bisa dikecewakan oleh kuda yang paling garang atau yang paling kasar.

Tomoe demikian cekatan ia andal menjalankan pedang dan busur hingga dipandang sama dengan seribu prajurit, dan pas untuk berjumpa dengan dewa atau iblis.

Salah satunya ceritanya yang heroik ialah Yoshinaka bertanding dengan pasukan Yoritomo di Perang Awazu. Di tanggal 21 Februari 1184. Tomoe Gozen sempat menggunting salah satunya kepala lawan dalam peperangan itu.

Meskipun pasukan Yoshinaka bertanding dengan berani, tapi karena kalah jumlah pasukan hingga Yoshinaka berserah.

Walau berserah Yoshinaka saat itu tidak inginkan Tomoe ketangkap lawan pada akhirnya dia mempertaruhkan diri dan minta Tomoe untuk kabur, dan menjelaskan tidak ingin mati bersama wanita.

Saat sebelum ia berserah,Yoshinaka bicara ke Tomoe untuk selekasnya larikan diri karena ia tidak mau malu mati dengan seorang wanita.

Dalam Pertarungan Awazu, Tomoe sendiri masih tetap hidup dan bisa lolos dari lawan sesudah sukses memotong leher musuh-musuhnya! Namun, sesudahnya catatan berkenaan Tomoe tidak diketemukan kembali. Ada yang mengatakan seterusnya Tomoe jadi selir dan permaisuri raja Wada Yoshimori dan pusaranya benar ada tetapi bernama Yamabuki Gozen.

Walau Tomoe Gozen adalah petarung wanita terpopuler di Jepang, mayoritas ceritanya didasari pada legenda dibanding bukti riil.

Salah satunya sumber info khusus mengenai narasi Tomoe ialah Heike monogatari , gabungan balada, dongeng, dan text berlainan yang dipadukan jadi satu cerita riwayat epik sekitaran tahun 1240. Walau kerap dipermasalahkan orisinalitasnya, cerita kepahlawanan Tomoe terus memberikan inspirasi wanita Jepang.

Sejarah Ahli Pedang, Miyamoto Musashi

Sejarah Ahli Pedang, Miyamoto Musashi

Sejarah Ahli Pedang, Miyamoto Musashi

Miyamoto Musashi, atau yang biasa dikenal sebagai Niten Doraku, adalah ahli pedang hebat dari Jepang pada awal zaman Edo kelahiran tahun 1584.

Filsuf dan penulis yang kerap dipanggil Musashi ini merupakan anak laki-laki dari Shinmen Munisai, yang juga merupakan seorang samurai yang tak kalah melegenda di Jepang yang juga pengguna senjata jitte yang sering dipakai polisi zaman Edo.

Berikut adalah beberapa fakta yang berhasil dikumpulkan dari beberapa sumber situs slot terpercaya tentang Ronin atau Samurai tak bertuan, alias Musashi tersebut.

1. Masa Kecil Musashi

Menurut buku Go Rin No Sho, Musashi yang memiliki nama kecil Bennosuke atau Takezo lahir di desa Miyamoto, Provinsi Harima pada tahun 1584.

Musashi kecil juga sudah diajari cara menggunakan jitte oleh sang ayah yang merupakan seniman bela diri, hingga ayahnya menutup usia di tahun 1592. Setelah itu Musashi diasuh oleh adik ayahnya yang merupakan seorang biksu di Kuil Shoreian yang terletak tiga kilometer dari Hirafuku, bernama Dorinbo.

Dorinbu fokus mengajarkan Musashi kecil dengan agama Buddha dan juga pendidikan dasar seperti belajar membaca dan menulis.

2. Duel Pertama

Duel pertama Musashi adalah saat ia beruusia 13 tahun, melawan Arima Kihei, pengguna Kashima Shinto-ryu yang juga merupakan murid salah satu samurai legendaris, Tsukahara Bokuden.

Kihei yang dikenal sebagai samurai yang arogan dan terlalu bersemangat dalam pertarungan, sehingga saat di Hirafuku, ia membuat tantangan untuk publik, yang kemudian diterima tantangannya oleh Musashi yang menuliskan namanya sendiri di kertas.

Dorinbo, paman Musashi yang terkejut, pun judi slot terpercaya mengemis kepada Kihei untuk membatalkan pertarungannya dengan Musashi karena saat itu usia Musashi memang masih sangat belia.

Namun Kihei menolak dan terjadilah pertarungan dengan Musashi yang saat itu tidak menggunakan pedang, melainkan tongkat kayu yang berhasil membuat Arima Kihi harus merenggang nyawa.

3. Mengembara Keliling Tanah Jepang

Setelah duelnya dengan Arima Kihei, Musashi memutuskan untuk mengembaran dan terus berlatih agar menjadi samurai terhebat. Di pertengahan pengembaraannya tersebut juga tidak jarang Musashi terlibat dalam pertarungan, yang akhirnya selalu dimenangkan oleh Musashi dengan bokken atau pedang kayunya.

4. Masa Tua dan kematian

Di masa tuanya, Musashi tidak lagi ingin bertarung dan memilih untuk menjadi pelayan daimyo (penguasa istana) Kumamoto, Hosokawa Tadotoshi.

Dan saat mendekati masa kematiannya pada 1645, Musashi memilih untuk mengasingkan diri ke sebuah gua dan menurunkan ilmunya dalam bentuk buku, “Go Rin no Sho/五輪書” atau “Buku Lima Cincin”, dan “Dokkodo/獨行道” atau “Jalan Kesendirian” yang berisi 21 aturan mengenai kedisplinan diri untuk generasi masa depan.

Jenazahnya kemudian dimakamkan di desa Yuge, dekat jalan utama Gunung Iwato denga menggunakan baju zirah. Rambutnya pun ditanam di Iwato.