Permaisuri Jingu, Samurai Wanita Misterius Penakluk Korea

Permaisuri Jingu, Samurai Wanita Misterius Penakluk Korea

Permaisuri Jingu, Samurai Wanita Misterius Penakluk Korea – Di Jepang samurai identik dengan kesan istilah yang sangat maskulin, namun di awal 200 Masehi samurai wanita pun mulai bermunculan. Dikenal dengan istilah Onna-Bugeisha, para samurai wanita mulai berlatih strategi dan seni bela diri. Mereka bertempur bersama dengan samurai pria demi mempertahankan keluarga, rumah, hingga kehormatan mereka.

Permaisuri Jingu, Samurai Wanita Misterius Penakluk Korea

Onna-bugeisha juga diakui sama kuatnya, mematikan, dan tidak mengenal rasa takut. Tidak dibeda-bedakan gendernya pada berabad-abad sebelum akhirnya Jepang memiliki kelas samurainya di abad-12. Salah satu onna-bugeisha yang terkenal adalah Jingu Kongo atau Permaisuri Jingu yang lahir pada abad ke-2 169M.

Walau samurai lebih disamakan pada pria Jepang, tapi pada wanita Jepang kuno mempunyai kekuatan samurai seperti pria.

Samurai wanita atau onno-bugeisha tidak gentar untuk menjawab panggilan pekerjaan untuk berperang dengan berani dalam pertarungan bersama samurai pria. Permaisur Jingu pimpin Kekaisaran Jepang, sesudah suaminya meninggal pada 201. Kepimpinannya usai dia wafat dan putranya, Kaisar Ojin, naik takhta pada 269, sama seperti yang dikutip dari KCP International. Berdasarkan catatan tradisionil Jepang Kuno, Permaisuri Jingu ialah istri dari penguasa Chuai ke-14, yang memerintah dari 192-201.

Legenda menjelaskan Permaisuri Jingu disebutkan tengah mengandung putranya Ojin saat tengah berperang menaklukan Korea sepanjang tiga tahun dan dia melahirkan sesudah kembali lagi ke Jepang. Disebut jika putra yang dikandung sebetulnya ialah Hachiman, dewa perang. Dikutip dari Rekishi Nihon, putranya masih tetap ada di kandungan sepanjang tiga tahun untuk memberikan Permaisuri Jingu saat yang diperlukan untuk mengalahkan Korea.

Beberapa yakin jika penguasaan Korea oleh Permaisuri Jingu cuman didasari pada Prasasti Gwanggaeto.

Tetapi legenda agresi Permaisuri Jingu ke semenanjung Korea ada dalam kronik Jepang kuno, Kojiki, yang dicatat pada 680 dan Nihon Shoki yang dicatat pada 720.

Permaisuri Jingu sudah banyak dilukiskan dalam beberapa cerita vernakular, lukisan, dan patung.

Banyak yang memandang Permaisur Jingu sebagai dewi, ibu dari dewa perang Hachiman, dan wanita gagah penakluk kerajaan Korea.

Permaisuri Jingu jadi wanita pertama kali yang diperlihatkan pada uang kertas Jepang pada 1881.

Tetapi, representasi Permaisuri Jingu dibikin secara artistik oleh Edoardo Chiossone yang seutuhnya memiliki sifat sangkaan karena tidak ada gambar sebetulnya dari figur Situs Judi Slot Online Gampang Menang legendaris ini yang dijumpai ada.

Tidak ada tanggal tentu yang bisa diputuskan mengenai kisah kehidupan atau pemerintah figur riwayat wanita Jepang ini.

Permaisuri Jingu dipandang oleh beberapa sejarawan sebagai figur “legendaris” karena tidak ada cukup bahan yang ada untuk klarifikasi dan study selanjutnya. Permaisuri Jingu wafat pada 269 M.

Walau tempat beristirahat paling akhir Permaisuri Jingu belum juga dijumpai, misasagi atau pusara resminya berada di Misasagi-cho di Nara.

Tomoe Gozen, Samurai Legendaris Wanita Yang Cantik Namun Menakutkan

Tomoe Gozen, Samurai Legendaris Wanita Yang Cantik Namun Menakutkan

Tomoe Gozen, Samurai Legendaris Wanita Yang Cantik Namun Menakutkan – Tomoe Gozen merupakan salah satu samurai legendaris wanita yang dianggap sebagai samurai yang sangat cantik. Tak hanya terkenal dengan paras yang cantik, Tomoe juga dikenal karena memiliki keahlian yang mumpuni saat menggunakan senjata juga menunggang kuda.

Tomoe Gozen, Samurai Legendaris Wanita Yang Cantik Namun Menakutkan

Kisah milik Tomoe Gozen ini sendiri seakan diselimuti oleh misteri, namun samurai cantik di abad ke-12 ini disebut-sebut memiliki kekuatan yang setara dengan kekuatan 1.000 tentara. Begitu mengerikan meskipun memiliki paras yang sangat cantik.

Gozen ialah putri Nakahara Kanet, seorang simpatisan Minamoto no Yoshinaka, dan ia mewariskan kesetiaan keluarganya. Ia melayaninya di Perang Genpai, pimpin 300 samurai menantang 2.000 prajurit klan Taira dan menang. Menurut Heike monogatari, Tomoe mempunyai rambut hitam panjang dan kulit yang ceria, dan mukanya benar-benar elok.

Ditambah lagi ia ialah seorang penunggang kuda yang tidak mengenal takut yang tidak bisa dikecewakan oleh kuda yang paling garang atau yang paling kasar.

Tomoe demikian cekatan ia andal menjalankan pedang dan busur hingga dipandang sama dengan seribu prajurit, dan pas untuk berjumpa dengan dewa atau iblis.

Salah satunya ceritanya yang heroik ialah Yoshinaka bertanding dengan pasukan Yoritomo di Perang Awazu. Di tanggal 21 Februari 1184. Tomoe Gozen sempat menggunting salah satunya kepala lawan dalam peperangan itu.

Meskipun pasukan Yoshinaka bertanding dengan berani, tapi karena kalah jumlah pasukan hingga Yoshinaka berserah.

Walau berserah Yoshinaka saat itu tidak inginkan Tomoe ketangkap lawan pada akhirnya dia mempertaruhkan diri dan minta Tomoe untuk kabur, dan menjelaskan tidak ingin mati bersama wanita.

Saat sebelum ia berserah,Yoshinaka bicara ke Tomoe untuk selekasnya larikan diri karena ia tidak mau malu mati dengan seorang wanita.

Dalam Pertarungan Awazu, Tomoe sendiri masih tetap hidup dan bisa lolos dari lawan sesudah sukses memotong leher musuh-musuhnya! Namun, sesudahnya catatan berkenaan Tomoe tidak diketemukan kembali. Ada yang mengatakan seterusnya Tomoe jadi selir dan permaisuri raja Wada Yoshimori dan pusaranya benar ada tetapi bernama Yamabuki Gozen.

Walau Tomoe Gozen adalah petarung wanita terpopuler di Jepang, mayoritas ceritanya didasari pada legenda dibanding bukti riil.

Salah satunya sumber info khusus mengenai narasi Tomoe ialah Heike monogatari , gabungan balada, dongeng, dan text berlainan yang dipadukan jadi satu cerita riwayat epik sekitaran tahun 1240. Walau kerap dipermasalahkan orisinalitasnya, cerita kepahlawanan Tomoe terus memberikan inspirasi wanita Jepang.

Sejarah Ahli Pedang, Miyamoto Musashi

Sejarah Ahli Pedang, Miyamoto Musashi

Sejarah Ahli Pedang, Miyamoto Musashi

Miyamoto Musashi, atau yang biasa dikenal sebagai Niten Doraku, adalah ahli pedang hebat dari Jepang pada awal zaman Edo kelahiran tahun 1584.

Filsuf dan penulis yang kerap dipanggil Musashi ini merupakan anak laki-laki dari Shinmen Munisai, yang juga merupakan seorang samurai yang tak kalah melegenda di Jepang yang juga pengguna senjata jitte yang sering dipakai polisi zaman Edo.

Berikut adalah beberapa fakta yang berhasil dikumpulkan dari beberapa sumber situs slot terpercaya tentang Ronin atau Samurai tak bertuan, alias Musashi tersebut.

1. Masa Kecil Musashi

Menurut buku Go Rin No Sho, Musashi yang memiliki nama kecil Bennosuke atau Takezo lahir di desa Miyamoto, Provinsi Harima pada tahun 1584.

Musashi kecil juga sudah diajari cara menggunakan jitte oleh sang ayah yang merupakan seniman bela diri, hingga ayahnya menutup usia di tahun 1592. Setelah itu Musashi diasuh oleh adik ayahnya yang merupakan seorang biksu di Kuil Shoreian yang terletak tiga kilometer dari Hirafuku, bernama Dorinbo.

Dorinbu fokus mengajarkan Musashi kecil dengan agama Buddha dan juga pendidikan dasar seperti belajar membaca dan menulis.

2. Duel Pertama

Duel pertama Musashi adalah saat ia beruusia 13 tahun, melawan Arima Kihei, pengguna Kashima Shinto-ryu yang juga merupakan murid salah satu samurai legendaris, Tsukahara Bokuden.

Kihei yang dikenal sebagai samurai yang arogan dan terlalu bersemangat dalam pertarungan, sehingga saat di Hirafuku, ia membuat tantangan untuk publik, yang kemudian diterima tantangannya oleh Musashi yang menuliskan namanya sendiri di kertas.

Dorinbo, paman Musashi yang terkejut, pun judi slot terpercaya mengemis kepada Kihei untuk membatalkan pertarungannya dengan Musashi karena saat itu usia Musashi memang masih sangat belia.

Namun Kihei menolak dan terjadilah pertarungan dengan Musashi yang saat itu tidak menggunakan pedang, melainkan tongkat kayu yang berhasil membuat Arima Kihi harus merenggang nyawa.

3. Mengembara Keliling Tanah Jepang

Setelah duelnya dengan Arima Kihei, Musashi memutuskan untuk mengembaran dan terus berlatih agar menjadi samurai terhebat. Di pertengahan pengembaraannya tersebut juga tidak jarang Musashi terlibat dalam pertarungan, yang akhirnya selalu dimenangkan oleh Musashi dengan bokken atau pedang kayunya.

4. Masa Tua dan kematian

Di masa tuanya, Musashi tidak lagi ingin bertarung dan memilih untuk menjadi pelayan daimyo (penguasa istana) Kumamoto, Hosokawa Tadotoshi.

Dan saat mendekati masa kematiannya pada 1645, Musashi memilih untuk mengasingkan diri ke sebuah gua dan menurunkan ilmunya dalam bentuk buku, “Go Rin no Sho/五輪書” atau “Buku Lima Cincin”, dan “Dokkodo/獨行道” atau “Jalan Kesendirian” yang berisi 21 aturan mengenai kedisplinan diri untuk generasi masa depan.

Jenazahnya kemudian dimakamkan di desa Yuge, dekat jalan utama Gunung Iwato denga menggunakan baju zirah. Rambutnya pun ditanam di Iwato.