Sejarah Ahli Pedang, Miyamoto Musashi

Sejarah Ahli Pedang, Miyamoto Musashi

Miyamoto Musashi, atau yang biasa dikenal sebagai Niten Doraku, adalah ahli pedang hebat dari Jepang pada awal zaman Edo kelahiran tahun 1584.

Filsuf dan penulis yang kerap dipanggil Musashi ini merupakan anak laki-laki dari Shinmen Munisai, yang juga merupakan seorang samurai yang tak kalah melegenda di Jepang yang juga pengguna senjata jitte yang sering dipakai polisi zaman Edo.

Berikut adalah beberapa fakta yang berhasil dikumpulkan dari beberapa sumber situs slot terpercaya tentang Ronin atau Samurai tak bertuan, alias Musashi tersebut.

1. Masa Kecil Musashi

Menurut buku Go Rin No Sho, Musashi yang memiliki nama kecil Bennosuke atau Takezo lahir di desa Miyamoto, Provinsi Harima pada tahun 1584.

Musashi kecil juga sudah diajari cara menggunakan jitte oleh sang ayah yang merupakan seniman bela diri, hingga ayahnya menutup usia di tahun 1592. Setelah itu Musashi diasuh oleh adik ayahnya yang merupakan seorang biksu di Kuil Shoreian yang terletak tiga kilometer dari Hirafuku, bernama Dorinbo.

Dorinbu fokus mengajarkan Musashi kecil dengan agama Buddha dan juga pendidikan dasar seperti belajar membaca dan menulis.

2. Duel Pertama

Duel pertama Musashi adalah saat ia beruusia 13 tahun, melawan Arima Kihei, pengguna Kashima Shinto-ryu yang juga merupakan murid salah satu samurai legendaris, Tsukahara Bokuden.

Kihei yang dikenal sebagai samurai yang arogan dan terlalu bersemangat dalam pertarungan, sehingga saat di Hirafuku, ia membuat tantangan untuk publik, yang kemudian diterima tantangannya oleh Musashi yang menuliskan namanya sendiri di kertas.

Dorinbo, paman Musashi yang terkejut, pun judi slot terpercaya mengemis kepada Kihei untuk membatalkan pertarungannya dengan Musashi karena saat itu usia Musashi memang masih sangat belia.

Namun Kihei menolak dan terjadilah pertarungan dengan Musashi yang saat itu tidak menggunakan pedang, melainkan tongkat kayu yang berhasil membuat Arima Kihi harus merenggang nyawa.

3. Mengembara Keliling Tanah Jepang

Setelah duelnya dengan Arima Kihei, Musashi memutuskan untuk mengembaran dan terus berlatih agar menjadi samurai terhebat. Di pertengahan pengembaraannya tersebut juga tidak jarang Musashi terlibat dalam pertarungan, yang akhirnya selalu dimenangkan oleh Musashi dengan bokken atau pedang kayunya.

4. Masa Tua dan kematian

Di masa tuanya, Musashi tidak lagi ingin bertarung dan memilih untuk menjadi pelayan daimyo (penguasa istana) Kumamoto, Hosokawa Tadotoshi.

Dan saat mendekati masa kematiannya pada 1645, Musashi memilih untuk mengasingkan diri ke sebuah gua dan menurunkan ilmunya dalam bentuk buku, “Go Rin no Sho/五輪書” atau “Buku Lima Cincin”, dan “Dokkodo/獨行道” atau “Jalan Kesendirian” yang berisi 21 aturan mengenai kedisplinan diri untuk generasi masa depan.

Jenazahnya kemudian dimakamkan di desa Yuge, dekat jalan utama Gunung Iwato denga menggunakan baju zirah. Rambutnya pun ditanam di Iwato.